Ketika gelap mencari-cari
terang merangkul berdiam diri
Hei, anak zaman
cari itu pada terang
gelap datang kekaslah garang
jangan tenggelam terlalu dalam
segera cepat segera
pilihan masih terbuka jalan
sebelum buntu jalanmu datang
Hei, anak zaman
jangan mencari ketika gelap
jangan berdiam ketika teerang
Rabu, 05 Desember 2012
Jumat, 01 Juni 2012
NYANYIAN MALAM
Desahan angin melagu ditelinga
yang hilang pandang
tersebab kelam menyelimuti indra
Hei malam kelam
yang meracau pada zaman
tersebab ia tampak liar semakin hari
yang kau risau
tersebab ia semakin jadi menghitam
Bukan buram tapi hitam
bukan pejam tapi seram
bukan peram tapi karam
dia
zaman yang kau risau
zaman yang kau risau
zaman yang buatmu meracau
zaman yang semakin kacau
Hei malam kelam
desahan angin melagu ditelinga
dan dingin mulai meraba ragaku
Sabtu, 07 April 2012
Malam yang terluka
Bayang ini
mengintai dalam temaramnya malam
membawa sepucuk surat
tuk sampaikan sepenggal kata
untuk cahaya
kau adalah cahaya
yang temaramkan malam ini
malam ini aku
aku yang terluka
kita tetap bersama
sebatas cahaya dan malam
Jumat, 30 Maret 2012
Minggu, 25 Maret 2012
Nyamuk
ku ingin terlelap dalam
bermain dirimbunnya mimpi
ditemani bunga warna-warni
dan kupu-kupu ramah menghiasi
kenapa tak henti-henti
mendengungkan resah dikuping ini
dia letih menahan rasa
kenapa tak merasa
kau itu luka
tak sempat kumeracau
:au!
sugut menembus
menghisap darah
yang ternyata nanah
dari luka lama
hadirmu itu luka
enyah kau!
PLAKKK!
bermain dirimbunnya mimpiditemani bunga warna-warni
dan kupu-kupu ramah menghiasi
kenapa tak henti-henti
mendengungkan resah dikuping ini
dia letih menahan rasa
kenapa tak merasa
kau itu luka
tak sempat kumeracau
:au!
sugut menembus
menghisap darah
yang ternyata nanah
dari luka lama
hadirmu itu luka
enyah kau!
PLAKKK!
Amnesia
aku lupa
pada janji
yang melambung tinggi
menembus langit harapan
aku lupa
pada mereka
yang mengisi suara
agar aku menyayangi
agar mereka terlindungi
agar mereka
agar mereka
ah, aku lupa
pada janji
yang melambung tinggi
menembus langit harapan
aku lupa
pada mereka
yang mengisi suara
agar aku menyayangi
agar mereka terlindungi
agar mereka
agar mereka
ah, aku lupa
Sabtu, 24 Maret 2012
Pura-pura
seakan tidur
ketika
gepalan jari membentur pintu hati
seakan tuli
ketika
pekik harap mencari wadah
seakan buta
ketika
raga-raga meronta dirajam zaman
seakan-akan
tiada cerita menemuinya
ketika
gepalan jari membentur pintu hati
seakan tuli
ketika
pekik harap mencari wadah
seakan buta
ketika
raga-raga meronta dirajam zaman
seakan-akan
tiada cerita menemuinya
Jumat, 23 Maret 2012
Mesem maut
Rabu, 21 Maret 2012
Menjala
Telusuri bibir pantai
tersingsing jala asmara kubawa
tersingsing jala asmara kubawa
menunggu lumba-lumba betina
tampak hadirnya
seiring ombak menggebu
tampak ia
ya,
lumba-lumba betina
melompat pedih
nyayikan lirih perih
ku tebas gebu ombak
jala terbang menjala raga
menjala rasa lumba-lumba
maksud hati bukan menyakiti
hanya hasrat memanggil diri
kau lumba-lumba
ku kutuk dikau menjelma insan
biar ku tempatkan
dibilik hati
biar hilang rasa pedih
biar badai tak lagi ancam
jala ini
saksi kita
biar dunia tidak mencela
tampak hadirnya
seiring ombak menggebu
tampak ia
ya,
lumba-lumba betina
melompat pedih
nyayikan lirih perih
ku tebas gebu ombak
jala terbang menjala raga
menjala rasa lumba-lumba
maksud hati bukan menyakiti
hanya hasrat memanggil diri
kau lumba-lumba
ku kutuk dikau menjelma insan
biar ku tempatkan
dibilik hati
biar hilang rasa pedih
biar badai tak lagi ancam
jala ini
saksi kita
biar dunia tidak mencela
Selasa, 20 Maret 2012
Kecupan
kasih
kau beri rasa
membuka
cahaya pertama
mata muda
pekik tangis
mengukir senyum diwajahmu
berharap indah
masa hadapan
dimatanya
kasih
sekecup cinta
sekecup cita
sekecup asa
melekat dibibir ini hati
harapmu padaku
besar-terbesar
hingga tak mampu
kau muntahkan lewat bibir itu
kasih
cinta ini padamu
tak tersalipkan
oleh semahlukpun
di ini alam
kau beri rasa
membuka
cahaya pertama
mata muda
pekik tangis
mengukir senyum diwajahmu
berharap indah
masa hadapan
dimatanya
kasih
sekecup cinta
sekecup cita
sekecup asa
melekat dibibir ini hati
harapmu padaku
besar-terbesar
hingga tak mampu
kau muntahkan lewat bibir itu
kasih
cinta ini padamu
tak tersalipkan
oleh semahlukpun
di ini alam
Senin, 19 Maret 2012
Senja
Kita berpayung
kala senja mulai lebat
menanti teduh
memajang senyum
Dibawah payung
kita bercerita
sebuah kisah
sebuah rasa
sebuah cinta
antara dua rupa
menatap langit senja
:harapan itu ada
kita berteriak kepadanya
sekala
akan tiba
sebuah kisah
sebuah rasa
sebuah cinta
menyatu hati
ya,
menyatu hati
antara kau dan aku
kala senja mulai lebat
menanti teduh
memajang senyum
Dibawah payung
kita bercerita
sebuah kisah
sebuah rasa
sebuah cinta
antara dua rupa
menatap langit senja
:harapan itu ada
kita berteriak kepadanya
sekala
akan tiba
sebuah kisah
sebuah rasa
sebuah cinta
menyatu hati
ya,
menyatu hati
antara kau dan aku
Tanya
Malam berkerudung mendung
kidungku melambung
mencari
sedang diri nanti
kidungku melambung
mencari
sedang diri nanti
menusuk
Malam melangkau malam
secahya tak kunjung pulang
sepi paksa mamah rasa
Oh, secahaya
dimana ada
biar ku pecah
biar ku koyak
biar berdarah
cari ku akan dirimu
Dimana
secahaya itu berada
Malam melangkau malam
secahya tak kunjung pulang
sepi paksa mamah rasa
Oh, secahaya
dimana ada
biar ku pecah
biar ku koyak
biar berdarah
cari ku akan dirimu
Dimana
secahaya itu berada
Demi
Demi waktu
demi hidup
demi cita
Kayuh
demi hidup
demi cita
Biar arus
gila-mengila
biar dahaga
gila-mengila
biar dahaga
tersebab pekik tak terhirau
biar hangus
pundak menyandang harap
biar hangus
pundak menyandang harap
Kayuh
lawan-melawan
arus kehidupan
Pantang hentikan
arus kehidupan
Pantang hentikan
Bunga
Sejenak mentari terbit
hilang tenggelam
begitu lamanya
hilang tenggelam
begitu lamanya
hari-hari
dalam kelam
dalam suram
dalam mendalam
meluka hati
meluka hati
merekah bunga-bunga
menjadi harapan
menjadi harapan
mengapa
mengapa tinggal luka dalam hati
mengapa tinggal luka dalam hati
mengapa
mengapa tinggal luka dalam hati
mengapa tinggal luka dalam hati
mengapa
Biar bunga terlanjur layu
harapan tetaplah tumbuh
harapan tetaplah tumbuh
Talang
Kicau burungrindang pohon
teduh indra
lembaran hari
Tapak-tapak
telusur semak
hutan pengasuh
pola pandang
Ini negara hutan
:teriak bocah
menanti pandang melebar
fikir meluas
tidak sedaun kelor
Tertinggal
ditinggal
kah
mereka
Tanya-tanya
terbang
hinggap-menghinggap
keranting-ranting hati
mencari sandi pembuka rasa
Sabtu, 17 Maret 2012
Mengapa
Pawang
Juang
Aurora
Sahabat
kita berdendang
meski kelam menjulang
meski kelam menjulang
malam bersulang
mereguk harapan
Warna-warni
menggumpal cipta cita kita
menggumpal cipta cita kita
dilangit rasa
Warna-warni
menyulam fikir kita
membentang
mengangkang
menentang
keangkuhan hitam
Warna-warni
tegas kala kelam
lugas kala terang
tegas kala kelam
lugas kala terang
meski badai menerjang
ragu kita pantang
ragu kita pantang
Warna-warni
menyinar hati
fikir
rasa
yang terpasung beku
Sahabat
kita laksana aurora
menari-nari dikelam malam
hingga fajar nyatakan wujudnya
kita laksana aurora
menari-nari dikelam malam
hingga fajar nyatakan wujudnya
Mangsa
Digurun waktu
memangsa
dimangsa
memangsa
dimangsa
Tikus
mengendap mencari mangsa
dimangsa ular
sedang ular memakan tikus
dimangsa manusia
sedang manusia mencari mangsa
dimangsa waktu
mengendap mencari mangsa
dimangsa ular
sedang ular memakan tikus
dimangsa manusia
sedang manusia mencari mangsa
dimangsa waktu
Ular derik
Pekik parau
lambung
dalam kerut
tersebab hari tengah
menanaknya
kucuran air mengalir dari pori
Kemana mesti mencari
pemunah lapar
pemecah dahaga
sedang diri masih terdampar
digurun waktu
berpijak pada butir-butir harapan
Ular berderik riang
melihat mangsa tak berdaya
sedang diri bertambah kuasa
lambung
dalam kerut
tersebab hari tengah
menanaknya
kucuran air mengalir dari pori
Kemana mesti mencari
pemunah lapar
pemecah dahaga
sedang diri masih terdampar
digurun waktu
berpijak pada butir-butir harapan
Ular berderik riang
melihat mangsa tak berdaya
sedang diri bertambah kuasa
Lahad
Ketika ranah menguyup
tersebab tetes
dari pekik pelupuk mata
melihat raga
hilang nyawa
Malam
sebelum pagi ini menyapa
tersebab tetes
dari pekik pelupuk mata
melihat raga
hilang nyawa
Malam
sebelum pagi ini menyapa
masih ada untuk bersama
Lahad telah menanti
dirimu yang menetap disana
siapkah sudah?
Doa-doa menggumpal
menyekat sebisa liang dosa
dirimu yang disana
siapkah sudah?
dirimu yang menetap disana
siapkah sudah?
Doa-doa menggumpal
menyekat sebisa liang dosa
dirimu yang disana
siapkah sudah?
semoga
kopi
Iman
Menyerap fikir
sepanjang jejak
tampak kata
menimbul ragu
Peram
sepanjang malam
biar keram guliga rasa
asa tetap terjaga
Tenang
jangan menggenang
air pelupuk mata
tenang
jangan tergenang luka
Pijar kan menyulam cinta
tuk bentang hangat jiwa
saat itu kan nyata
dikemudian hari
atau mungkin
dikehidupan abadi
sepanjang jejak
tampak kata
menimbul ragu
Peram
sepanjang malam
biar keram guliga rasa
asa tetap terjaga
Tenang
jangan menggenang
air pelupuk mata
tenang
jangan tergenang luka
Pijar kan menyulam cinta
tuk bentang hangat jiwa
saat itu kan nyata
dikemudian hari
atau mungkin
dikehidupan abadi
Resah laut resah tanah
Rabalah
beri sentuhan mesra
pada tanah
pada laut
gelisah
dilaut sana
nasip mereka
dimainkan ombak menggila
ditanah sana
tak tumbuh
harapan
masihkah berleha
sedang tanah
sedang laut
dibuai resah
beri sentuhan mesra
pada tanah
pada laut
gelisah
dilaut sana
nasip mereka
dimainkan ombak menggila
ditanah sana
tak tumbuh
harapan
masihkah berleha
sedang tanah
sedang laut
dibuai resah
Senin, 12 Maret 2012
Ketika
ketika raga berharap rasa
rasa merasa dia berharga
ketika raga berharap rasa
rasa merasa dia segala
ketika raga berharap rasa
rasa merasa selamanya
ketika raga menikam rasa
rasa gugur bersama harapnya
rasa merasa dia berharga
ketika raga berharap rasa
rasa merasa dia segala
ketika raga berharap rasa
rasa merasa selamanya
ketika raga menikam rasa
rasa gugur bersama harapnya
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)









.jpg)









